BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sekarang ini istilah administrasi (Administration) dan manajemen (management) tidak lagi di persoalkan, keduanya mempunyai Ruang lingkup yang sangat luas namun bebrapa Ahli berpendapat bahwa keduanya sama. Kini, kata manajemen semakin populer di semua bidang.
Menurut Krajewski at. Al. (Danim,2002) Titik tekan manajemen terletak pada dimensi-dimensi lebih teknis dari usaha untuk mencapai tujuan, sedangkan administrasi, disamping menyangkut tugas-tugas manajemen bagi pencapainnya tujuan, juga menekankan pada penciptaan unitas dari dimensi-dimensi keorganisasian dan sasaran-sasaran yang ingin dicapai. Menurut Lipham dan Hoeh (Danim,2002), pendekatan proses dalam administrasi kurang menekankan aspek-aspek operatif apa (what) yang harus dikerjakan dan bagaimana (how) organisasi akan dikelola.
Dengan demikian, istilah administrasi umumnya digunakan bilamana merujuk pada proses kerja manajerial tingkat puncak yang dilihat dari konteks keorganisasian, sedangkan istilah manajemen merujuk pada proses kerja manajerial pada tingkat yang lebih operasional.
Komponen-komponen sekolah itu adalah siswa, tenaga kependidikan (guru pegawai), kurikulum, keuangan, sarana dan prasarana, hubungan sekolah dengan masyarakat, dan layanan khusus (Adam,2003; Soetjipto dan Kosasi, 1994, dan Bafadal, 2003).
Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan sekolah. Alasannya, tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pembelajaran di sekolah dapat diwujudkan secara optimal, efisien dan efektif.
Menurut Sergiovanni at-al.(Danim,2002), dilingkungan pendidikan sekolah, sangat mungkin orang lebih suka menggunakan istilah administrasi daripada manajemen untuk membedakannya dengan organisasi bisnis dan industri, dua isstilah terakhir memang berkonotasi komersial.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa Pengertian Manajemen Sekolah?
2. Bagaimana Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran?
3. Bagaimana Manajemen Tenaga Kependidikan dan Manajemen Kesiswaan?
4. Bagaimana Manajemen Keuangan dan Pembiayaan?
5. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan?
6. Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyarakat?
7. Manajemen Layanan Khusus?
C. TUJUAN PENULISAN
1. Dapat menjelaskan Menjelaskan Pengertian Manajemen Sekolah.
2. Dapat menjelaskan Bagaimana Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran.
3. Dapat menjelaskan Bagaimana Manajemen Tenaga Kependidikan dan Manajemen Kesiswaan.
4. Dapat menjelaskan Bagaimana Manajemen Keuangan dan Pembiayaan.
5. Dapat menjelaskan Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan.
6. Dapat menjelaskan Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyarakat.
7. Dapat menjelaskan Manajemen Layanan Khusus.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Manajemen Sekolah
Dalam konteks pendidikan, memang masih ditemukan kontroversi dan inkonsistensi dalam penggunaan istilah manajemen. Di satu pihak ada yang tetap cenderung menggunakan istilah manajemen, sehingga dikenal dengan istilah manajemen pendidikan. Di lain pihak, tidak sedikit pula yang menggunakan istilah administrasi sehingga dikenal istilah adminitrasi pendidikan. Dalam studi ini, penulis cenderung untuk mengidentikkan keduanya, sehingga kedua istilah ini dapat digunakan dengan makna yang sama.
Selanjutnya, di bawah ini akan disampaikan beberapa pengertian umum tentang manajemen yang disampaikan oleh beberapa ahli. Dari Kathryn . M. Bartol dan David C. Martin yang dikutip oleh A.M. Kadarman SJ dan Jusuf Udaya (1995) memberikan rumusan bahwa :
“Manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan – tujuan organisasi dengan melakukan kegiatan dari empat fungsi utama yaitu merencanakan (planning), mengorganisasi (organizing), memimpin (leading), dan mengendalikan (controlling). Dengan demikian, manajemen adalah sebuah kegiatan yang berkesinambungan”.
“Manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan – tujuan organisasi dengan melakukan kegiatan dari empat fungsi utama yaitu merencanakan (planning), mengorganisasi (organizing), memimpin (leading), dan mengendalikan (controlling). Dengan demikian, manajemen adalah sebuah kegiatan yang berkesinambungan”.
Sementara itu, Hadari Nawawi (1992) mengemukakan bahwa “administrasi pendidikan sebagai rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara sistematis yang diselenggarakan di lingkungan tertentu terutama berupa lembaga pendidikan formal”.
Meski ditemukan pengertian manajemen atau administrasi yang beragam, baik yang bersifat umum maupun khusus tentang kependidikan, namun secara esensial dapat ditarik benang merah tentang pengertian manajemen pendidikan, bahwa :
1. Manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan;
2. Manajemen pendidikan memanfaatkan berbagai sumber daya; dan
3. Manajemen pendidikan berupaya untuk mencapai tujuan tertentu.
B. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran
Manajemen kurikulum dan program pengajaran merupakan bagian integral dari manajemen berbasis sekolah, mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan penilainnya kurikulum.
Manajemen atau administrasi pengajaran adalah keseluruhan proses penyelenggaraan kegiatan dibidang pengajaran yang bertujuan agar seluruh kegiatan pengajaran terlaksana secara efisien dan efektif.
Kepala sekolah harus bertanggung jawab tentang perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian perubahan atau perbaikan program pengajaran di sekolah. Untuk kepentingan tersebut, paling tidak terdapat empat langkah yang harus dilakukan, yaitu:
1. Menilai kesesuaian program yang ada dengan tuntutan kebudayaan dan kebutahan murid
2. Meningkatkan kualitas perencanaan program
3. Memilih dan melaksanakan program
4. Menilai perubahan program
Menurut Mulyasa (2003) beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh guru adalah :
1. Tujuan yang dikehendaki harus jelas, makin operasional tujuan, makin mudah terlihat dan makin tepat program-program yang dikembangkan untuk mencapai tujuan.
2. Program itu harus sederhana dan fleksibel
3. Program-program yang disusun dan dikembangkan harus sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan
4. Program yang dikembangkan harus menyeluruh dan harus jelas pencapaiannya
5. Harus ada koordinasi antar komponen pelaksana program di sekolah.
Oleh karena itu, perlu dilakukan pembagian tugas guru, penyusunan kalender pendidikan dan jadwal pelajaran, pembagian alokasi waktu yang digunakan, penetapan pelaksanaan evaluasi belajar, penetapan penilaian, penetapan norma kenaikan kelas, pencatatan kemajuan belajar siswa, perbaikan pengajaran, serta pengisian waktu jam kosong.
C. Manajemen Tenaga Kependidikan Dan Manajemen Kesiswaan
Keberhasilan manajemen berbasis sekolah sangat ditentukan oleh keberhasilan pimpinannya dalam mengelola tenaga kependidikan yang tersedia disekolah. Dalam peraturan pemerintah nomor 38 tahun 1992 tentang tenaga kependidikan,pada pasal 3 ayat 1 mnyatakan bahwa:”tenaga kependidikan terdiri atas tenaga pendidik,pengelola satuan pendidikan,penilik,pengawas,peneliti dan pengembngan di bidang pendidikan, pustakawan, laboran, teknisi sumber belajar,dan penguji”
Manajemen tenaga kependidikan(guru dan bukan guru) mencangkup:
1. Perencanaan pegawai
Perencanaan pegawai merupakan kegiatan untuk menentukan kebutuhan pegawai ,baik secara kuantitatif maupun kualitatif untuk sekarang dan masa depan. Sebeum menyusun rencana,terlebuih dahulu harus merencanakan analisis pekerjaan(job analysis),deskripsi/uraian pekerjaan (job description ),yaitu gambaran tugas-tugas dan pekerjaan yang harus dilaksanakan.
2. Penerimaan pegawai
pengadaan pegawai merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan pegawai pada suatu lembaga sesuai dengan formasi(lowongan kerja) yang tersedia-sebagai hasil analisis pekerjaan dan deskripsi pekerjaan yng dilakukan sebelumnya;naik jumlah maupun kualitasnya.
3. Pembinaan dan pengembangan pegawai,
pembinaan dan pengembangan pegawai merupakan fungsi pengelolaan personil sangat diperlukan,untuk memperbaiki,menjaga,dan meningkatkan kinerja pegawai . kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara on the job training and inservice training. Kegiatan ini menyangkut aspek kemampuan dan aspek pngebangan karier pegawai.
4. Promosi dan mutasi pegawai
Di Indonesia ,untuk pegawai negeri sipil (pns),promosi atau pengangkatan pertama biasanya diangkat sebagai calon PNS dengan masa percobaan satu/dua tahun,mendapatkan gaji 80% dari gaji pokok. Kemudian ia mengikuti latihan prajabatan,dan setelah lulus diangkat menjadi PNS penuh,dengan mendapatkan gaji 100% dari pokok gaji dan penghasilan tambahan lainnya setiap bulan .
5. Kompensasi
Dalam penempatan atau penugasan diusahakn adanya konkurensi yang tinggi antara tugas yang menjadi tanggung jawabpegawai dengan karakteristik pegawai.
6. penilaian pegawai Untuk mencapai tingkat konkurensi yang tinggi antara tugas yang menjadi tanggung jawab pegawai dengan karakteristik pegawai.
7. Pemberhentian/pemutusan hubungan kerja/pensiun Pemberhtian pegawai mrupakan fungsi personalia yang menyebabkan trlepasnya pihak organisasi dan personil cdan hak dan kewajiban sebagai lembaga tempat bekerja dan sebagai pegawai.Dalam kaitanny dengan tenaga kependidikan disekolah,khususnya pegawai negeri sipil(PNS).
Manajemen kesiswaan atau manajemen peserta didik merupakan salah satu bidang operasiona manajemen berbasis sekolah. Manajemen kesiswaan adalah penataan dan pengaturan kegiatan yang berhubunan dengan peserta didik yakni mulai dari masuk sampai dengan keluarnya siswa tersebut dari sebuah sekolah.
Manajemen kesiswaan bertujuan untuk mengatur kegiatan-kegiatan bidang kesiswaan agar proses pembelajaran diskolah dapat berjalan lancar,tertib dan teratur,serta mencapai tujua pendidikan disekolah. Untuk mencapai tujuan tersebut,bdang manajemen kesiswaan memiliki tiga tugas utama yang harus diperhatikan,yaitu penerimaan siswa baru,kegiatan kemajuan belajar ,serta bimingan dan pembinaan disiplin.
Berdasarkan ketiga tugas utama tersebut,sutisna (1985)merinci 3 tanggung jawab kepala sekolah dalam mengelola bidang kesiswaan sebagai berikut:
1. Kehadiran murid disekolah dan masalah-masalah yang berhubungan denga itu;
2. Peneriaan, orientasi,klasifikasi,dan penunjukan murid kelas dan program studi;
3. Evaluasi dan pelaporan kemajuan belajar;
4. Progra supervisi bagi murid yang mempunyai kelainan,seperti pngajaran,perbaikan,dan pengajaran luar biasa;
5. Pengemdalan disiplin murid ;
6. Progra bimbimngan dan konseling;
7. Program kesehatan dan keamanan
8. Penyesuaian pribadi,sosial,dan emosional
Beberapa peranan guru dalam manajemen kesiswaan,guru lebih banyak berperan secara tidak langsung .beberapa pernan guru dalam manajemen kesiswaan(soetjipto dan kosasi 1994),adalah sebagai berikut:
1. Dalam penerimaan guru,paa guru dapat dilibatkan untuk ambil bagian;
2. Dalam masa orientasi ,tugas guru adalah membuat agar para siswa cepat beradaptasi dengan lingkungan sekolah barunya;
3. Untu pengaturan kehadiran siswa dikelas,guru mempunyai andil yang besar juga yakni mencatat/merekam kehadiran siswa meskipun degan sederhna tetapi harus baik dan benar;
4. Dalam memotivasi siswa untuk senantiasa berprestasi tinggi,guru juga harus dapat menciptakan suasana yang mendukug hal tersebut;
5. Dalam menciptakan disiplin sekolah atau kelas yang baik,peranan guru juga harus dapat menciptakan suasana yang mendukung hal tersebut;
6. Dalam menciptakan disiplin sekolah atau kelas yang baik,peranan guru sangat penting,karena guru dapat menjadi model.
D. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan
Dalam suatu lembaga pendidikan,biaya pndidikan merupakan salah satu komponen dalam suatu komponen dalam sistem pendidikan,yang tidak dapat ditinggalkan. Keuangan dan pembiayaan merupakan salah satu sumber daya yang secara langsung menunjang efisiensi dan efektivitas pengelolaan pendidikan.
Dalam penyelnggaraan pendidikan ,keuangan dan pembiayaa merupaan potensi yang menentun dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kajian manajemen pendidikan.
Sumber keungn dan pembiayaan pada sebuah sekolah (mulyasa,203),secara garis besar dapat dikelompokkan atas tiga sumber,yaitu:
1. Pemerintah ,baik pemerintah pusat ,daerah maupun kedua-duanya bersifat umum atau khusus dan diperuntukkan bagi kepentingan pendidikan ;
2. Orang tua atau peserta didik(siswa);
3. Masyarakat,baik mengikat maupun tidak mengikat.
Undang –Undang RI nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional,bahwa “pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat,daerah dan masyarakat”. Adapn dimnsi pengeluaran meliputi biaya rutin,dan biaya pembangunan.
Tugas manajemen kungan dapat dibagi dengan 3 fase(mulyasa,2003)yaitu financial plannig,implementation,and evaluation.
1. JONES(mulyasa2003) mengemukakan perencanaa finansial yang disebut bugeting,merupakan kegiatan mengkoordinasi semua sumber daya yang tersedia untuk mencapai saran yang diinginkan secara sistematis tanpa menyebabkan efek samping yang merugikan.
2. Implentation involves accounting (pelaksanaan anggaran)ialah kegiatan berdasarkan rencana yang telah dibuat dan kemungkinan terjadi penyesuaian jika diperlukan..
3. Evaluation involves merupakan proses evaluasi terhadap pencapaian sasaran.
Komponen utama manajemen keuangan meliputi:
a) Prosedur anggaran ;
b) Prsedur akuntansi keuangan;
c) Pembelanjaan,pergudangan,dan prosedur pendistribusian;
d) Prosedur investasi dan
e) Prosedur pemeriksaan.
E. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan
Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar. Adapun yang dimaksud dengan prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses belajar mengakar.
Manajemen sarana dan prasarana pendidikan bertugas mengatur dan menjaga sarana dan prasarana pendidikan agar dapat memberikan kontribusi secara optimal dan berarti pada jalannya proses pendidikan.
Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakakan sekolah yang bersih, rapi, indah, sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. Selain itu juga diharapkan tersedianya alat-alat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif, kualitatif dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan pengajar maupun siswa sebagai peserta didik.
F. Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Sekolah berada di tengah-tegah masyarakat dan dapat di kaitkan sebagai pisau bermata dua. Mata yang pertama adalah menjaga kelestarian nilai-nilai budaya positif yang ada dalam masyarakat ,agar pewarisan nilai-nilai budaya positif yang ada dalam masyarakat, agar pewarisan nilai-nilai masyrakat itu berlangsung dengan baik. Mata yang kedua adalah sebagai lembaga yang mendorong perubahan nilai dan tradisi itu sesuai dengan kemajuan dan tunutan kehidupan serta pembangunan (Soetjipto dan Kosasi,1994). Kedua fungsi ini seolah-olah bertentagan, namun sebenarnya keduanya dilakukan dalam waktu yang bersamaan.Oleh karena fungsinya yang controversial ini, diperlukan saling pemahaman antara sekolah dan masyarakat.
Nilai-nilai yang sesui dengan kebutuhan pembangunan tetap dijaga kelestariannya,sedang yang tidak sesuai harus diubah menjadi baik. Pelaksanaan fungsi sekolah ini, terlebih penting bagi sekolah yang berbeda di tengah-tengah masyarakat terpencil, menjadi tumpuan harapan masyarakat untuk kemajuan mereka. Untuk dapat menjalankan fungsi ini hubungan sekolah masyarakat harus selalu baik. Dengan demikian terdapat kerja sama serta situasi saling membantu antara sekolah dan masyarakat.
Hubungan sekolah dengan masyrakat pada dasarnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah. Dalam hal ini, sekolah sebagai system social yang lebih besar, yaitu masyarakat.
Sekolah dan masyarakat mempunyai hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan pendidikan di sekolah juga harus menunjang pencapain tujuan atau pemenuhan kebutuhan masyarakat, khususnya kebutuhan pendidikan. Oleh karena itu, sekolah berkewajiban untuk memberi penerangan tentang tujuan-tujuan , program-program ,kebutuhan ,serta keadaan masyarakat. Sebaliknya, sekolah juga harus mengetahui dengan jelas apa kebutuhan , harapan , dan tuntutan masyarakat. Atau dengan perkataan lain,antara sekolah dan masyarkat harus dibina suatu hubungan yang harmonis.
Hubungan sekolah dan masyrakat bertujuan antara lain untuk (1) memajukan kualitas pembelajar dan pertumbuhan anak, (2) memperkokoh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat, dan (3) menggairahkan masyarakat untuk menjalin hubungan dengan masyarakat. Hal ini sesuai dengan peraturan pemerintah republic Indonesia Nomor 39 tahun 1992, tentang peranserta masyarakat dalam pendidikan masyarakat.
Hubungan harmonis antara sekolah dan masyarakat ini semakin di rasakan penting pada masyarakat yang telh menyadari dan memahami pentingnya pendidikan bagi anak-anak. Namun, tidak berarti bahwa pada masyarakat yang masih kurang menyadari pentingnya pendidikan, hubungan kerja sama itu tidak perlu di bina. Bahkan sekolah di tuntut lebih aktif dan kreatif untuk menciptakan hubungan kerja sama yang lebih harmonis.
Kepala sekolah yang baik merupakan salah satu kunci untuk bisa menciptakan hubungan yang baik antara sekolah dan masyarakat secara efektif karena harus menaruh perhatian tentang apa yang di pikirkan orang tua tentang sekolah. Kepala sekolah di tuntut untuk senantiasa berusaha membina hubugan kerja sama yang baik an tara sekolah dan masyarakat guna mewujudkan sekolah yang efisien dan efektif. Hubungan kerja sama yang harmonnis akan membentuk :
1. Saling pengertian antara sekolah, orang tua, masyarakat , dan lembaga-lembaga lain yang ada di masyarakat, termasuk dunia kerja.
2. Saling membantu antara sekolah dan masyarakat karena mengetahui manfaat, arti pentingnya peranan masing-masing.
3. Kerja sama yang erat antara sekolah dengan berbagai pihak yang ada di masyarakat dan mereka ikut bertanggung jawab atas suksesnya pendidikan sekolah.
G. Manajemen Layanan Khusus
Manajemen layanan khusus meliputi manajemen perpustakaan, kesehatan dan keamanan sekolah. Manajemen komponen-komponen tersebut merupakan bagian penting dari MBS yang efisien dan efektif.
Perkembanga ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berlangsungbegitu pesat pada masa sekarang menyebabkan guru tidak bisa lagi melayani kebutuhan anak-anak akan informasi dan guru-guru juga tidak bisa lagi mengandalkan apa yang di perolehkan di bangku sekolah.
Perpustakaan yang lengkap dan di kelolah dengan baik memungkinkan peserta didik untuk lebih mengembangkan dan mendalami pengetahuan yang di perolehnya di kelas melalui belajar madiri, baik pada waktu –waktu kosong di sekolah maupun d rumah. Di samping itu, juga memungkinkan guru untuk mengembangkan pengetahuan secara mandiri, dan dapat mengajar dengan metode berfariasi, misalnya belajar individual.
Manajemen layanan khusus lain adalah layanan kesehatan dan keamanan. Sekolah sebagai satuan pendidikan kesehatan dan keamanan. Sekolah sebagai satuan pendidikan yang bertugas dan bertanggung jawab melaksanakan proses pembelajaran, tidak hanya bertugas mengembangkan ilmu pengetahuan, keterampilam, dan sikap saja, tetapi harus menjaga dan meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani peserta didik.
Selain itu, sekolah juga perlu memberikan pelayanan keamanan kepada peserta didik dan para pegawai yang ada di sekolah agar mereka dapat belajar dan melaksanakan tugas dengan tenang dan nyaman.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Manajemen kurikulum dan program pengajaran merupakan bagian integral dari manajemen berbasis sekolah, mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan penilainnya kurikulum. Perencanaan dan pengembangan kurikulum nasional pada dasarnya telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional pada tingkat pusat. Karena itu, pada level sekolah, yang paling penting adalah bagaiman merealisasikan dam menyesuaikan kurikulum tersebut dengan kegiatan pembelajaran.
Manajemen tenaga kependidikan atau manajemen personalia pendidikan di sekolah bertujuan untuk mendayagunakan tanaga kependidikan – guru di SD – secara efisien dan efektif untuk mencapai hasil yang optimal namun tetap dalam suasana yang kondusif dan menyenangkan. Sehubungan dengan itu, fungsi personalia yang harus dilaksanakan oleh pimpinan adalah merekrut, mengembangkan, menggaji, dan memotivasi personil guna mencapai tujuan sistem, membantu anggota mencapai posisi dan standar perilaku, memaksimalkan perkembangan karier tenaga kependidikan, menyelaraskan tujuan individu dengan istitusi (sekolah).
Manajemen kesiswaan atau manajemen peserta didik merupakan salah satu bidang operasional MBS. Manajemen kesiswaan adalah penataan dan pengaturan kegiatan yang berhubungan dengan peserta didik, yakni mulai masuk sampai dengan keluarnya siswa tersebut dari suatu sekolah. Manajemen kesiswaan bukan hanya berbentuk pencatatan saja, melainkan meliputi aspek yang lebih luas yang secara operasional dapat membantu upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah.
Keuangan dan pembiayaan merupakan salah satu sumber daya yang secara langsung menunjang efisiensi dan efektivitaas pengelolaan pendidikan. Hal tersebut lebih terasa lagi dalam implementasi manajemen berbasis sekolah, yang menuntut kemampuan sekolah untuk merencanakan, malaksanakan, mengevaluasi, dan mempertanggungjawabkan pengelolaan dana secara trasparan kepada masyarakat dan pemerintah.
Manajemen sarana dan prasarana pendidikan bertugas mengatur dan menjaga sarana dan prasarana pendidikan agar dapat memberikan kontribusi secara optimal dan berarti pada jalannya proses pendidikan. Sekolah dan masyarakat mempunyai hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan pendidikan di sekolah secara efisien dan efektif. Manajemen layanan khusus meliputi manajemen perpustakaan, kesehatan dan keamanan sekolah. Manajemen komponen-komponen tersebut merupakan bagian penting dari MBS yang efisien dan efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Samad, Sulaiman dkk. 2009. Profesi Keguruan. FIP – UNM. Makassar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar